Cerita ini datang dari wasis. Tentu ini adalah kejadian sudah lama. Saat wasis masih kecil sekitar tahun 2000. lokasi kita samarkan. kita sebut saja dari purwokerto jawa tengah. Waktu itu dia masih kecil, masih SD, dan hidupnya bisa dibilang kurang bahagia. Orang tuanya cerai, dan dia tinggal sama bapaknya yang sibuk dinas. Karena nggak ada yang ngurus, wasis jadi liar, suka main sama anak-anak pang jalanan. Anak anak brandalan, padahal dia masih bocah. Jadi mari kita simak ceritanya.
====
Suatu malam, wasis ikut ngamen sama anak-anak pang di daerah yang dia sendiri nggak tahu persis di mana. Waktu ngamen, dia kebelet pipis. Di ujung lapangan rumput, dia nemu semacam tumpukan bambu yang ditata kayak ruangan kecil. Dia pipis di situ.
Baru kelar pipis, tiba-tiba ada suara cewek manggil, “Dek, kok kencing di situ? Ini rumah ibu loh.” wasis kaget. Pas nengok, dia lihat sosok yang persis kayak ibu kandungnya. Mukanya, bajunya, semua sama. Refleks, wasis lari dan langsung meluk sosok itu.
Tapi makin lama dipeluk, badan “ibunya” itu terasa aneh—kasar, penuh duri. Pas wasis buka pelukan dan mundur, ternyata yang dia peluk itu cuma tumpukan batang bambu.
wasis panik, mau kabur. Tapi jalannya udah ketutup bambu berduri. Di belakang cuma ada hutan gelap. Tiba-tiba suara “ibunya” manggil lagi, “Sini, Dek. Ikut ibu.”
Karena nggak ada pilihan, wasis lari ke arah hutan. Gelap banget. Tapi entah kenapa, ada tangan yang ngegandeng dia. Sosok “ibunya” ada di depan, gandeng dia sambil lari. Aneh, wasis ngerasa makin ringan, makin cepat larinya, sampai akhirnya dia kehilangan kesadaran.
Pas sadar, dia lagi tiduran. Kepalanya dipangku sosok “ibu”-nya. Di atasnya ada pohon beringin besar. Dia nyaman banget. Sambil merem, dia nanya, “Ibu, aku masih anak ibu, kan?”
Tiba-tiba si sosok ketawa keras banget. Terus jawab pakai bahasa Jawa, yang artinya: semua anak yang nggak diurus orang tuanya, semua yang hilang waktu magrib, itu anakku.
wasis langsung buka mata. Tapi dia nggak bisa lihat muka sosok itu. Wajahnya ketutup rambut panjang dan... payudaranya. Iya, payudaranya panjang banget, ini udah pasti setan wewe gombel.
wasis dorong setan wewe gombel itu, marah, “Kamu siapa? Jangan ngaku-ngaku jadi ibu saya!”
setan itu langsung nunjukin wajah aslinya—keriput, hitam, matanya merah, lidah panjang menjulur, dan payudaranya sampai hampir nyentuh tanah. Itu... Wewe Gombel.
setan itu senyum lebar, lambaikan tangan, nyuruh wasis balik lagi. Tapi wasis kabur, lari semaunya, masuk makin dalam ke hutan. Tapi anehnya, dia lari sejauh apa pun, tetap nggak bisa keluar.
Sampai akhirnya dia jatuh dan pingsan.
Pas bangun, dia ada di dalam dapuran bambu yang sama kayak awal. Tapi kali ini, semuanya ketutup rapat. Gak ada celah buat keluar atau masuk.
Pelan-pelan dia denger suara azan subuh. Lalu suara orang-orang rame dari kejauhan. Ternyata... bapaknya datang, bawa kiai.
wasis baru tahu, dia udah hilang selama tiga hari.
Kata si kiai, anak-anak yang diculik makhluk halus kayak gitu, baru bisa ditemukan pas azan subuh. Soalnya itu waktu di mana setan udah nggak berani nampakin diri.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar