Bagian Paling Dalam dari Cinta || Kisah Waktu Malam
(Hening sejenak, suara pelan, lirih tapi jelas)
Gue masih inget... waktu pertama kali lihat kamu.
Rasanya kayak… Tuhan baru aja nurunin satu-satunya karya terindah-Nya ke dunia, dan gue… jadi salah satu saksi.
Dan lucunya... tiap kali gue lihat kamu lagi, rasa senang itu tumbuh. Awalnya kecil... makin lama, makin besar. Sampai akhirnya berubah jadi rasa sayang.
Tapi pas ketiga kalinya gue lihat kamu... gue sadar.
Ini nggak bisa diterusin.
Bukan karena gue nggak sayang. Justru karena terlalu sayang, gue harus sadar: semakin gue dekat, semakin gue terluka. Karena... gue cuma seseorang yang biasa-biasa aja. Sementara kamu? Kamu terlalu jauh. Terlalu tinggi. Terlalu bersinar. Seperti bintang, yang cuma bisa gue lihat dari kejauhan, tapi nggak bisa gue sentuh.
Dan anehnya... walaupun gue tahu kamu nggak akan pernah ngelihat balik, gue tetap aja nggak bisa berhenti mandangin kamu.
Sakit, ya. Tapi... entah kenapa gue ikhlas.
(Hening)
Gue tahu, rasa ini nggak akan kemana-mana. Tapi gue juga tahu, kalau dipaksa, semua ini cuma akan melukai diri gue sendiri.
Ada banyak orang di luar sana yang jauh lebih layak buat kamu. Yang bisa kasih kamu bahagia. Gue tahu itu. Dan itu yang bikin gue akhirnya... milih untuk mundur.
Bukan karena gue menyerah. Tapi karena gue sayang.
Gue nggak pengen rasa ini berubah jadi luka yang tajam. Gue nggak pengen perasaan gue ke kamu malah jadi racun buat diri sendiri.
Gue sadar… kamu dilahirkan buat dicintai banyak orang. Dan gue… cukup berdiri di tempat ini, agak jauh dari langkah-langkah kamu, sambil terus mendoakan yang terbaik.
Gue nggak minta apa-apa, beneran.
Cukup tahu kamu bahagia, itu udah cukup buat gue.
(Musik sendu masuk pelan)
Kadang gue mikir... kalau deket belum tentu bikin bahagia, mungkin berjauhan justru lebih baik. Setidaknya... rasa ini tetap bisa terjaga. Tetap tulus.
Dan ya... mungkin memang cinta yang paling jujur adalah cinta yang nggak pernah kamu tahu.
Kalau kamu lagi ngedengerin ini—entah kamu sadar atau enggak—gue cuma mau bilang...
Terima kasih, karena kamu pernah ada di pandangan pertama gue.
Terima kasih, karena kamu udah jadi alasan sederhana gue buat percaya… bahwa kagum nggak selalu harus dimiliki.
Dan...
Kalau suatu saat kamu nyari gue, walau kecil kemungkinan itu… gue masih di sini. Tapi bukan untuk minta dipilih. Cuma untuk bilang... gue pernah sayang, tanpa harus dimengerti.
Dan itu... nggak akan pernah gue sesali.
(Hening sejenak)
Terima kasih ya... udah dengar suara yang mungkin nggak penting buat siapa-siapa, tapi sangat penting buat gue.
Sampai jumpa di episode selanjutnya. Gue aggy, pamit.
(Musik ditutup pelan, fade out)
Kalau kamu butuh versi ini dijadikan naskah siap rekam (misalnya diberi arahan nada, jeda, atau musik pengiring), atau ingin kamu gabungkan dengan cerita pertama di file sebelumnya jadi satu episode bertema "lukanya belum sembuh", aku siap bantu. Mau dilanjut?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar