kembali lagi bersama saya aggy tri fanny. Malam ini Ceritanya datang dari ratna, yang waktu itu baru masuk pondok pesantren pada tahun 2005 lokasi kita sebut saja purwokerto jawa tengah bukan lokasi sebenarnya. Awalnya dia pikir tempat kayak gitu pasti aman dari hal-hal mistis, soalnya isinya orang-orang rajin ibadah. Tapi ternyata enggak. Penasaran dengan kisahnya. Mari kita simak ceritanya.
===
Pondoknya punya kamar mirip kos-kosan. Satu kamar isi enam orang, dan tiap kamar dipimpin satu ketua kamar dari kelas 11. Nah, ratna yang masih baru, belum tahu aturan-aturan tak tertulis di situ. Salah satunya: dilarang jemur baju di rooftop setelah Isya sampai sebelum subuh.
Tapi karena pengen rajin, ratna malah cuci baju malam-malam. Sekitar jam 9 malam, dia nyuci di kamar mandi ujung bangunan. Awalnya banyak santri lain juga nyuci, jadi dia merasa aman.
Tapi lama-lama air dari saluran pembuangan warnanya berubah merah, kayak darah atau warna baju yang luntur parah. Suara orang nyuci di kamar mandi sebelah masih kedengaran. Pas ratna mau kasih tahu, dia keluar... dan kaget. Pondoknya kosong, lampu mati, nggak ada siapa-siapa.
Tapi suara dari kamar mandi sebelah masih ada. Dia buka pelan-pelan... dan lihat baju merah tergantung di udara, seperti lagi dikucek, tapi gak ada yang megang. Beberapa detik kemudian baju itu jatuh ke lantai.
ratna langsung lari, tapi karena belum hafal arah, dia malah naik ke rooftop. Dan karena udah bawa cucian, ya sekalian aja dia jemur baju sambil baca doa. Lagi jemur, tiba-tiba ada yang berdiri persis di belakang dia dan ngomong, “Teh, maaf... baju saya keinjak.”
ratna nengok. Sosoknya perempuan putih mulus, rambut panjang, pakai gaun merah panjang. Tingginya jauh di atas ratna. Tapi ternyata... dia nggak napak ke tanah. Melayang.
Dan saat lampu rooftop nyala mendadak, wajah perempuan itu kelihatan jelas—mukanya rata, rusak parah, seperti korban kecelakaan.
ratna lari turun ke kamar. Tapi suara pintu rooftop terus-terusan dibanting dari belakang. Beberapa hari setelah itu, ratna jadi pendiam. Sampai suatu waktu, lagi ngobrol sama teman sekamar dan ketua kamar, ketahuan kalau ratna sering jemur baju malam-malam.
Ketua kamar, Kak jeje, langsung tegang dan nanya, “Kamu nggak lihat kain merah kan?”
ratna langsung cerita semuanya. Kak jeje diam, terus cuma pesan, “Jangan ke rooftop malam-malam lagi, ya.” Sejak itu, ratna nggak pernah jemur malam lagi. Malamnya dia isi buat salat tahajud dan baca Al-Qur'an di masjid.
Tapi... setan itu masih muncul.
Suatu malam, ratna salat tahajud di masjid pondok. Di sudut masjid ada orang lain juga salat. Tapi anehnya, mukenanya merah. Padahal semua mukena di situ putih.
Pas ratna selesai salat dan nengok ke sudut... orang itu udah nggak ada. Tapi baru keluar masjid, dia lihat sosok tadi ada lagi. Masih salat, tapi gerakannya aneh. Ruku, berdiri, ruku, berdiri... cepat banget. Tanpa sujud.
ratna lari ke kamar. Dan saat ngelihat ke arah rooftop, dia lihat sosok cewek itu lagi mondar-mandir di pinggir pembatas, seperti orang yang lagi nyari sesuatu. Lama-lama dia jalan ke pinggir rooftop... lalu jatuh.
Beberapa tahun setelahnya, ratna baru tahu cerita lengkapnya. Dulu, di tempat pondok itu berdiri, pernah ada kecelakaan pengantin wanita. Dia meninggal pas menuju lokasi pernikahan—dan tempat kecelakaannya pas banget di gedung yang sekarang jadi rooftop jemuran.
Dan katanya, sampai sekarang cincin pernikahannya belum ditemukan.
Mungkin... itu yang dia cari selama ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar