Maaf, Belum Bisa Lupa || Kisah Waktu Malam
(Suara napas pelan. Lalu mulai bicara, lembut)
Nggak semua rasa itu harus dapet jawaban.
Dan... nggak semua ketulusan harus dibalas.
Tapi kalau boleh jujur, malam ini... detik ini... gue ngerasa cape banget, nahan semuanya sendiri.
Boleh ya, gue pinjem waktu lo sebentar?
Bukan buat ceramah, bukan buat ngebahas teori cinta. Cuma pengen cerita—dari hati, tanpa naskah, tanpa rencana. Cuma gue, sama suara ini.
(Hening sejenak)
Obrolan ini, gue kasih judul: "Maaf, Belum Bisa Lupa."
Buat lo... yang mungkin nggak bakal dengerin podcast ini. Tapi tetap aja, semua ini… tentang lo.
Dulu, waktu kita masih bareng, gue ngerasa kayak orang paling beruntung di dunia.
Lo support mimpi-mimpi gue, bahkan yang paling absurd sekalipun. Kita kayak satu tim yang saling dorong, saling kuat. Gue jatuh, lo ada. Gue nangis, lo tenangin. Gue takut, lo peluk.
Tapi sekarang?
Sekarang lo udah pergi.
Dan gue masih di sini… dengan semua sisa kenangan yang gak tahu harus gue apain.
(Hening)
Gue ngerti kok, nggak semua hubungan harus bertahan. Tapi... gue nggak nyangka aja, lo ninggalinnya secepat ini. Segitu gampangnya. Setelah semua hal yang udah kita lewatin bareng-bareng.
Apa gue pernah cukup buat lo?
Apa gue... pernah jadi rumah yang lo mau pulangin?
Atau selama ini... lo cuma numpang lewat?
(Hembusan napas berat)
Kadang gue buka ruang chat kita, yang dulu penuh tawa dan cerita. Tapi sekarang, yang ada cuma sepi... dan air mata.
Gue masih inget gimana lo ngingetin gue makan, lo marahin gue kalau gue tidur kemaleman, lo support gue buat nulis, buat rekam podcast ini—iya, podcast ini. Lo yang pertama nyuruh gue mulai. Lo yang percaya gue bisa.
Dan sekarang, pas semuanya mulai kejadian, lo udah nggak ada.
Jujur, sakit.
Tapi gue juga nggak bisa benci lo.
Karena lo pernah jadi orang paling baik dalam hidup gue.
(Musik sendu masuk pelan)
Gue tahu, gue nggak sesempurna yang lo harapin. Mungkin rumah yang gue bangun terlalu sederhana buat lo tempatin. Mungkin mimpi-mimpi kita terlalu berbeda, atau... mungkin gue cuma jalan pintas buat lo menuju tempat yang sebenarnya.
Gue nggak nyalahin.
Gue cuma... belum bisa lupa.
Dan mungkin emang nggak akan bisa.
Karena semua tentang lo itu bukan sampah. Itu kenangan. Dan gue... terlalu sayang buat ngebuangnya.
Gue peluk erat, sebagai pelajaran. Sebagai bagian dari cerita gue. Sebagai luka yang nggak selalu berdarah... tapi terus terasa.
(Hening pelan)
Gue nggak nyangka, ternyata jarak bisa sebegitu kejamnya. Bisa bikin kita yang dulu deket banget... sekarang bahkan nggak bisa nyebut nama satu sama lain.
Kalau suatu hari nanti kita ketemu... sapa gue ya. Jangan anggap gue penulis, jangan anggap gue konten kreator.
Anggap aja gue temen lama. Temen yang dulu pernah lo bikin bahagia... dan juga pernah lo lukain.
(Hembusan napas)
Terakhir...
Makasih.
Makasih karena udah pernah percaya sama mimpi-mimpi gue. Makasih karena pernah doain gue. Makasih karena dulu, lo pernah jadi alasannya gue semangat bangun pagi.
Dan...
Maaf, karena sampai sekarang gue masih belum bisa lupa.
(Suara melembut, seperti mengakhiri doa)
Semoga lo bahagia... sama siapapun yang sekarang ada di samping lo.
Dan gue? Gue akan tetap nulis. Tetap cerita. Karena kenangan... bukan buat dibuang. Tapi buat dimaknai.
Terima kasih udah dengerin. Gue aggy, pamit. Sampai jumpa di episode selanjutnya.
(Musik sendu fade out perlahan)
Kalau kamu mau ini dibacakan secara profesional, bisa dibuatkan versi audio dengan suara dan musik latar. Atau kalau kamu mau ini jadi bagian dari seri monolog bertema cinta dan kehilangan, aku bisa bantu rancang konsepnya juga. Mau lanjut ke sana?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar