Luka Yang Belum Sembuh || Kisah Waktu Malam
...Kadang gue mikir, kenapa ya setiap kali orang bahas soal masa lalu... gue cuma bisa diem.
Bukan karena gue udah ikhlas, bukan karena gue udah nerima. Tapi lebih ke... gue masih berusaha ngerti semuanya. Prosesin satu-satu. Kata-kata mereka, kenangannya, luka-lukanya.
Kadang gue cuma bisa senyum... tapi itu bukan bahagia. Lebih ke... senyum kosong. Kayak kepala gue melayang ke tempat yang bahkan gue sendiri nggak tahu itu di mana.
Kadang gue ketawa. Tapi gue sadar, itu bukan karena lucu—tapi karena gue ngetawain diri sendiri. Karena bisa sebodoh ini, larut dalam semuanya.
Dan ujung-ujungnya, gue nangis.
Air mata gue jatuh gitu aja, kayak tanpa aba-aba. Hati gue... basah. Lembek. Rapuh. Nggak tahu kenapa, tapi rasanya kayak lagi baca buku yang halamannya sobek. Nggak lengkap. Nggak ngerti ceritanya, tapi juga nggak bisa berhenti baca.
Sampai akhirnya gue sadar... luka ini, ternyata belum sembuh.
(Hening sesaat)
Hai, balik lagi via suara. Gue aggy. Dan malam ini, kita bahas yang dalam-dalam. Tentang luka. Tentang kehilangan. Tentang hati.
Lo pernah nggak sih... ketemu seseorang, yang rasanya kayak rumah? Tapi ternyata... dia bukan buat lo.
Gue pernah.
Dia pernah bilang, “Saya sayang kamu. Makanya saya lakuin ini dengan senang hati. Jangan terlalu banyak minta maaf, cukup jadi diri kamu aja, itu udah bikin saya bahagia.”
Tapi seminggu setelah itu, dia pergi. Gitu aja.
Dan lucunya, tiap kali orang datang... gue sadar, pasti ada lagu-lagu tertentu yang jadi soundtrack. Tapi pas mereka pergi, lagu itu tetap tinggal. Dan tiap lagu itu keputar lagi, entah kenapa... rasa sakitnya juga ikut keputar.
Kayak kenangan tuh punya kunci cadangan buat masuk ke kepala gue. Tanpa permisi. Tiba-tiba udah duduk manis di sana, bawa semua rasa yang dulu sempet gue kubur.
Dan makin gila lagi, rasa kangen. Kangen itu... kejam. Nggak bisa lo lawan. Lo cuma bisa duduk, diem, dan nikmatin rasa sesaknya.
Gue cuma mau sayang. Sesederhana itu. Tapi nyatanya, yang tulus seringkali disia-siain. Yang serius, malah dibecandain. Yang selalu ada, malah nggak pernah dianggap.
Gue tahu, lo udah bahagia sekarang. Dan gue seneng banget lo bisa nemuin itu. Tapi... hei, luka ini belum sembuh. Masih nganga.
Dan gue cuma bisa berharap... suatu hari, Tuhan sembuhin luka ini, sama kayak Dia yang nyiptain rasa sakitnya.
Kadang gue pengen nanya... kenapa sih harus gue yang disia-siain?
Apa karena lo liat gue kuat? Karena gue keliatan bisa? Padahal enggak. Gue hancur. Tapi gue tutupin.
Dan lo tahu apa yang lebih nyakitin? Ketika semua kenangan itu... masih gue inget. Kayak masih baru kemarin.
Gue kangen. Kangen semuanya. Kangen jadi orang pertama yang lo cari kalau ada apa-apa. Kangen ketawa bareng, nangis bareng. Kangen ngobrolin masa depan sambil naik motor. Kangen jajanan pinggir jalan, yang dulu kita makan rame-rame sampe lupa waktu.
Tapi sekarang... semua tinggal kenangan.
Dan satu-satunya hal yang bisa gue lakuin adalah... nerima.
Mungkin ini memang akhirnya. Mungkin kita bisa ketemu lagi, tapi bukan sebagai “kita”. Hanya dua orang yang udah sama-sama belajar bahagia... meskipun nggak bareng-bareng lagi.
Terakhir, buat lo yang dengerin ini secara random...
Kalau suatu hari lo sempet ngerasa kehilangan gue—walau cuma sebentar—gue cuma mau lo tahu: yang lo sia-siain ini... dulu pernah sayang banget sama lo.
Tapi ya udah. Sekarang, waktunya gue sembuhin diri gue sendiri. Gue bangkit, gue pelan-pelan ngelupain. Dan semoga, suatu hari nanti... gue bisa bilang:
“Aku sudah sembuh.”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar