Di atas bukit yang terpencil, terdapat sebuah rumah kosong yang sudah lama ditinggalkan. Warga sekitar percaya bahwa rumah itu dihuni oleh arwah penasaran. Namun, rasa penasaran Dika membuatnya memutuskan untuk menyelidiki rumah tersebut.
Suatu malam, Dika menyelinap masuk ke dalam rumah itu. Dengan hati-hati, ia berjalan melewati lorong yang gelap dan berdebu. Suara langkah kakinya menggema di sepanjang lorong, menambah suasana mencekam. Tiba-tiba, Dika mendengar suara bisikan dari salah satu ruangan.
"Dika... Datanglah ke sini..."
Dika merasa jantungnya berdetak kencang. Ia mencari sumber suara itu dan menemukan sebuah pintu yang sedikit terbuka. Dengan perlahan, Dika mendorong pintu itu dan masuk ke dalam ruangan. Di dalam, ia melihat sebuah kursi goyang tua yang bergoyang pelan, seolah-olah ada yang duduk di sana.
Tiba-tiba, pintu ruangan itu tertutup dengan keras, dan lampu-lampu padam. Dika meraba-raba mencari senter di tasnya. Ketika ia berhasil menyalakannya, ia melihat bayangan samar di sudut ruangan. Bayangan itu mendekat, menampakkan sosok seorang pria dengan wajah pucat dan mata kosong.
"Dika, kamu seharusnya tidak datang ke sini," suara pria itu terdengar mengerikan.
Dika merasa tubuhnya membeku. Pria itu mendekat dengan cepat, dan tangan dinginnya menyentuh bahu Dika. Dika mencoba berteriak, namun suaranya teredam oleh rasa takut yang luar biasa. Dengan putus asa, ia berusaha melarikan diri, tetapi pintu ruangan terasa terkunci rapat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar