Di ujung senja, di tepi pantai yang sepi, Dara dan Arman berpelukan erat, menyadari bahwa ini adalah pertemuan terakhir mereka. Takdir yang kejam telah memutuskan untuk memisahkan mereka. Arman harus pindah ke luar negeri untuk menyelamatkan nyawa ibunya yang sakit parah, sementara Dara tetap tinggal di kampung halaman mereka.
.. "Jangan pernah lupakan aku, Arman," bisik Dara, air mata mengalir di pipinya.
.. "Aku takkan pernah melupakanmu, Dara. Janji kita akan selalu abadi," jawab Arman sambil menahan kesedihan yang mendalam.
Mereka berdua berpegangan tangan, menatap matahari yang perlahan tenggelam di ufuk barat, seolah-olah alam juga merasakan kesedihan yang sama. Setelah beberapa saat, mereka melepaskan pelukan mereka dan berjalan berpisah, membawa cinta dan kenangan yang begitu berharga dalam hati masing-masing.
Waktu terus berlalu, dan meskipun terpisah ribuan kilometer, Dara dan Arman tetap berhubungan melalui surat. Namun, suatu hari, surat dari Arman tak pernah lagi sampai. Dara merasa hatinya hancur, namun ia tetap bertahan dan berharap suatu hari akan ada keajaiban yang menyatukan mereka kembali.
Tahun-tahun berlalu, Dara akhirnya menerima bahwa Arman mungkin takkan pernah kembali. Namun, cinta mereka tetap hidup dalam setiap kenangan yang mereka bagi. Dalam setiap senja, Dara berdiri di tepi pantai, menatap matahari terbenam dan berdoa untuk kebahagiaan Arman, di mana pun dia berada.
Pada suatu malam, saat matahari terbenam dengan warna-warna yang indah, Dara merasakan kehangatan yang aneh di hatinya. Seolah-olah Arman ada di sana, bersamanya, memberikan pelukan terakhir yang penuh kasih. Dara tersenyum, menatap langit, dan berbisik, ."Sampai jumpa di kehidupan selanjutnya, cintaku."
Tidak ada komentar:
Posting Komentar