Pada tahun 2015, di sebuah desa kecil di Wonosobo, Lisa dan Sinta sedang duduk di ruang tamu rumah nenek mereka. Hujan deras mengguyur atap, dan suara petir menggema dari kejauhan. Nenek mereka, dengan suara berbisik penuh rahasia, mulai bercerita tentang sebuah legenda yang telah lama menjadi bisikan di kalangan penduduk desa.
"Di
tengah hutan itu," katanya sambil menunjuk ke arah luar jendela,
"ada rumah tua yang dulu milik seorang perampok terkenal di
zaman penjajahan Belanda. Dia menyembunyikan semua harta rampasannya
di sana. Tapi rumah itu terkutuk. Orang-orang yang mencoba masuk ke
sana... tidak pernah keluar dengan selamat."
Lisa
dan Sinta saling bertatapan. Mereka mendengar kisah ini dengan penuh
rasa ingin tahu, tapi tak bisa menahan rasa tertantang. "Kalau
memang harta itu masih ada," ujar Lisa dengan senyum tipis,
"kenapa tidak kita coba cari?"
Keesokan
harinya, mereka memulai perjalanan menuju hutan lebat yang menjadi
tempat berdirinya rumah angker tersebut. Kabut tebal menyelimuti
udara, dan suara burung hantu terdengar menggema di antara
pepohonan.
Ketika mereka akhirnya menemukan gedung itu,
pemandangan yang tampak membuat darah mereka membeku. gedung tua
tersebut hampir runtuh, dengan jendela-jendela yang terbuka lebar
seolah mengundang mereka masuk. Ada suasana aneh di sekitarnya—terasa
begitu sunyi, namun seperti ada sesuatu yang memperhatikan
mereka.
Lisa dan Sinta masuk ke dalam, membawa senter
yang sinarnya terasa kecil dibandingkan kegelapan pekat di dalam
rumah itu. Langit-langit rumah penuh dengan sarang laba-laba, dan
lantainya berderit di setiap langkah mereka. Di tengah ruangan,
mereka menemukan sebuah peti kayu tua, terkunci rapat dengan rantai
besi.
Ketika Lisa mencoba membuka peti itu, sebuah angin
dingin tiba-tiba berhembus, meskipun tidak ada jendela yang terbuka.
Suara bisikan mulai terdengar, seperti berasal dari dinding rumah.
"Pergilah... atau kau akan menyesal..." kata suara itu
dengan nada yang menggema.
Tapi Lisa tidak peduli. Dia
terus berusaha membuka peti, sampai akhirnya sebuah kunci muncul di
salah satu sudut ruangan, seperti dilemparkan oleh sesuatu yang tak
terlihat. Dengan gemetar, Sinta mengambil kunci itu dan
menyerahkannya pada Lisa.
Ketika peti itu akhirnya
terbuka, mereka menemukan tumpukan emas dan perhiasan yang
berkilauan. Namun, kegembiraan mereka hanya berlangsung sejenak.
Dinding rumah mulai bergetar, dan suara langkah kaki terdengar
mendekat dari kegelapan.
Sosok bayangan hitam dengan mata
merah menyala muncul dari lorong, bergerak dengan cepat ke arah
mereka. Lisa dan Sinta berlari sekuat tenaga, meninggalkan harta
karun itu, namun bayangan itu terus mengejar, suaranya menggema
seperti raungan yang mengerikan.
Saat mereka berlari
keluar dari rumah angker, tiba-tiba sosok arwah dengan penampilan
seperti perampok zaman penjajahan Belanda muncul menghadang di depan
mereka. Sosok itu menatap mereka dengan mata penuh kebencian, membuat
nyali Lisa dan Sinta hampir hilang. Dengan panik, mereka mencari
jalan keluar lain dan memutuskan untuk menuju pintu samping. Namun,
di tengah pelarian, Lisa tersandung oleh papan lantai yang lapuk dan
jatuh terkapar. Sinta spontan menoleh ke belakang dan terkejut
melihat arwah itu menyeret tubuh Lisa ke dalam bayangan gelap,
perlahan menghilang bersama kegelapan. Rasa takut yang mencekam
membuat Sinta tidak sanggup untuk menolong. Dengan air mata mengalir,
ia memilih berlari sekuat tenaga demi menyelamatkan dirinya.
Ketika
akhirnya Sinta berhasil melarikan diri dari rumah angker, dia pulang
dengan hati yang hancur. Tubuhnya gemetar, dan pikiran diliputi rasa
bersalah yang tak terlukiskan. Dia tidak hanya kehilangan kesempatan
untuk mendapatkan harta yang mereka incar, tetapi juga kehilangan
Lisa, sahabat sejatinya. Penyesalan menyelimuti dirinya—penyesalan
karena telah mengabaikan peringatan nenek untuk tidak memasuki rumah
terkutuk itu. Tangisan Sinta terus berlanjut, sementara bayangan
sosok Lisa yang diseret masuk ke dalam kegelapan menghantuinya setiap
kali ia memejamkan mata. Kehilangan ini menjadi luka yang akan ia
bawa sepanjang hidupnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar