Gue pernah tinggal sama ibu tiri gue setelah bokap nikah lagi. Rumahnya di kampung yang lumayan jauh dari kota. Dari luar sih keliatan biasa. Tapi begitu masuk... hawanya beda. Dingin, suram, dan tiap malam selalu ada suara-suara kayak bisikan dari balik dinding.
Ibu tiri gue orangnya manis—terlalu manis malah. Tapi sejak gue tinggal di sana, gue mulai mimpi aneh terus. Mimpi gue diikat, dibawa ke tengah hutan, terus disembah-sembah sama orang-orang pake jubah hitam. Pas gue cerita, dia cuma senyum dan bilang, “Kadang mimpi itu pertanda.”
Malam ketiga, gue denger suara dari loteng. Kayak ada yang ngorek-ngorek kayu. Gue naik buat cek, dan ketemu ruang rahasia. Di dalamnya ada altar... darah kering di mana-mana... dan foto-foto anak kecil. Termasuk foto gue.
Gue lari, teriak manggil ibu tiri gue. Tapi dia udah nunggu di bawah tangga... bawa pisau.
Dia bisik, “Maaf ya... tiap dua tahun, sarang ini harus dikasih tumbal.”
Gue teriak, kabur keluar... dan berhasil selamat. Atau... gue pikirnya begitu.
Karena besoknya, berita di koran nulis: ‘Remaja Tewas Bunuh Diri di Loteng, Diduga Halusinasi.’
Masalahnya... gue masih hidup. Tapi semua orang yakin gue udah mati.
Dan di cermin... yang keliatan bukan bayangan gue. Tapi anak-anak lain. Yang juga pernah ditumbalin.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar