Cerita yang bakal gue bacain kali ini juga datang dari tempat yang bersejarah di pulau sulawesi. Tepatnya di Makassar, tepatnya lagi dari benteng Fort Rotterdam. Ceritanya dialamin langsung sama pendengar setia kita, namanya andi. Kejadiannya sekitar tahun 2018, jadi mari kita simak ceritanya.
------------------
Jadi waktu itu andi masih kuliah di salah satu kampus di sana. Kayak anak rantau lainnya lah ya, selain kuliah dia juga nyari kesibukan. Biar bisa nambah uang jajan. Apalagi waktu itu dia lagi skripsian, jadi banyak waktu luang yang cuma diisi nulis-nulis doang.
Akhirnya dia mutusin buat nyari part-time. Sampai suatu hari diajakin sama seniornya buat bantuin di event organizer gitu. Karena ini pengalaman pertamanya, andi tuh belum ngerti apa-apa. Jadi yaudah, apa pun yang disuruh, dia ikutin aja.
Kebetulan seniornya ini pegang bagian produksi. Yang urus venue, properti, logistik, segala macem. Enggak lama, Alhamdulillah dapet project. Dan event-nya itu semacam pekan raya budaya. Tapi kliennya minta venue-nya di Fort Rotterdam itu.
------------------
Dan andi pun diminta survei keesokan harinya, hari Jumat. Dia milih ke sana agak sorean biar sepi, enggak banyak pengunjung. Supaya bisa leluasa jalan dan foto-foto.
Awalnya aman, enggak ada yang aneh. Dia keliling, foto-foto, ngumpulin materi. Tapi di tengah jalan, tiba-tiba dia ngerasa sakit perut. Yaudah buru-buru deh dia cari toilet.
Toilet umum yang dia pake itu ada di salah satu bangunan benteng. Pintu toiletnya tuh enggak ketutup full, ada celah di bawahnya. Biasa lah ya toilet umum gitu.
Begitu masuk, sepi. Enggak ada siapa-siapa. Tapi pas andi lagi di dalam toilet, dia dengar pintu kamar mandi—bukan bilik, tapi pintu utamanya—kebuka.
Dan suara langkah kaki masuk. Tapi yang bikin aneh, suaranya tuh kayak suara high heels. Lu bisa bayangin lah ya, suara hak tinggi cewek yang nyentuh lantai.
Terus, andi juga dengar suara cewek ngobrol. Padahal ini kan toilet cowok. Nah yang bikin makin aneh, obrolannya itu... kayak bukan bahasa Makassar, bukan juga bahasa Indonesia. Jadi andi enggak ngerti mereka ngomong apa.
andi pun spontan teriak, maksudnya buat ngingetin mungkin mereka salah masuk. Tapi begitu dia teriak, suara itu langsung berhenti beberapa detik...
Terus, enggak lama kemudian, terdengar suara cekikikan. Kenceng banget. Dan tiba-tiba, pintu biliknya kayak digedor dari luar. Berkali-kali.
Door door door
Pas andi ngintip ke celah bawah pintu itu... dia ngelihat ada kaki cewek. Pakai high heels. Tapi... yang bikin merinding, kakinya itu enggak napak di lantai.
Langsung deh, andi teriak-teriak dari dalam. Berusaha ngusir setan itu biar pergi.
------------------
Nah, jadi pas si andi lagi di dalam toilet itu ya... bukannya setan itu pergi, pelan-pelan gitu... malah justru kelihatan, dari lubang pintu toilet tuh, kayak ada rambut lurus—kaku, panjang—turun pelan-pelan ke bawah. Turun... turun... sampai akhirnya, dek! gitu.
Terus muncullah muka cewek itu. Putih banget, alus kayak enggak ada kerutan sama sekali. Dan posisi mukanya tuh bener-bener ngintip dari lubang pintu toilet. Lu bayangin ya, itu kepala ngintip dari bawah, tapi posisi kaki si setan ini tuh masih berdiri lurus. Jadi, kepalanya beneran kayak nunduk sampe lantai gitu. Badannya tuh kayak... patah.
andi yang lihat itu langsung panik, spontan dia dobrak tuh pintu sekenceng-kencengnya. BRAK! Begitu kebuka... hening. Kosong. Enggak ada siapa-siapa. Dia sendirian di situ.
Langsunglah tuh, andi buru-buru cabut dari toilet karena udah takut banget. Tapi ternyata... yang namanya rencana, enggak segampang itu, Bih. Pas dia jalan cepat-cepat lewatin lorong-lorong, dia tuh mulai ngerasa aneh.
------------------
Setiap dia ngelewatin jendela dari gedung lain yang posisinya sejajar, dia lihat sosok yang sama terus-terusan ngikutin. Cewek... tinggi banget. Dua kali lipat tingginya andi, mungkin 3 meteran lebih. Kulitnya putih kayak bule, rambutnya lurus, hitam, kaku. Pakai gaun renda, tapi penuh bercak darah.
Di situ andi sadar... wah, ini kayaknya si Noni Belanda.
Makin cepat andi jalan, dari kejauhan, si hantu noni ini juga makin cepat gerakannya. Bahkan pas bangunan tempat dia berdiri udah habis, dia bisa tembus ke gedung sebelah. Kayak... teleport gitu, bre.
andi baca-baca doa terus sambil jalan, tapi rasanya kayak enggak nyampe-nyampe. Dan pas dia nengok ke arah jendela—loh? Udah enggak ada gedung lain tuh di sebelahnya. Sosok itu ke mana?
Ternyata... si hantu Noni itu sekarang ada di lorong yang sama sama andi. Persis di depan dia. Dan dia... senyum. Lebar banget. Terus... ngelambai ke andi.
Gila sih, takut banget dong. andi langsung balik badan, lari sekencang-kencangnya. Pokoknya dia enggak mau ketemu sama si setan itu lagi. Dia lari entah ke mana, masuk ke ruangan-ruangan yang ada. Benteng itu kan bentukannya banyak ruangan sambung-sambungan gitu, kayak connecting door.
Tapi si setan Noni ini juga ngikutin terus. Bukan lari loh... melayang. Tembus tembok satu ke tembok yang lain. Wush wush gitulah !
------------------
Sampai akhirnya dari kejauhan, andi ngelihat ada pintu di ujung lorong. Di situ dia lihat ada bayangan beberapa orang masuk. Dia mikir, wah ada orang nih! Langsung lah dia masuk ke sana.
Baru banget masuk... BRAK! Pintu belakang ketutup kenceng banget, kayak ada angin nyeret. andi kaget. Tapi yang bikin makin merinding... pas dia nengok ke dalam ruangan itu, ternyata kosong.
Enggak ada siapa-siapa.
Cuman ada benda-benda peninggalan, kayak display museum. Ada satu akuarium gitu, model satu-satu. Dan setelah gua cari-cari di internet, kayaknya andi tuh lagi ada di lantai paling atas Fort Rotterdam.
------------------
Di ruangan itu, andi yakin banget dia sendirian. Tapi pas dia lihat pantulan kaca dari akuarium, dia ngelihat... ada bayangan orang banyak lalu-lalang. Kayak ruangan itu rame banget.
Dia maju dikit, ngelihat ke salah satu benda koleksi, terus dia lihat... dari pantulan kaca... dia lagi berdiri kaku. Badannya gemeter.
Dan tahu kenapa dia gemeter?
Soalnya... dari pantulan itu juga, dia lihat... di sisi kanan sama kiri dia, ada dua setan tinggi besar. Noni Belanda. Tingginya itu ya... si andi yang badannya udah tinggi, di kaca tuh cuma setengah badan si setan Noni itu. Segede itu, bre
Dan itu... jadi pengalaman pertama dan terakhir andi main sendirian ke Benteng Fort Rotterdam. Sejak saat itu, dia udah enggak pernah berani lagi ke sana. Enggak mau lagi ke sana.
------------------
Untungnya, sore itu semua kejadian udah selesai, dan andi akhirnya bisa cabut dari sana juga. Besok paginya, dia langsung balik ke kantor IO. Nah, sesampainya di kantor, dia ceritalah semuanya ke seniornya—tentang semua kejadian aneh yang dia alamin di Benteng Fort Rotterdam itu.
Awalnya, si senior ini kayak... ya nggak percaya gitu. Mikirnya andi cuma halu doang, apalagi tahu andi ke sana sendirian dan pas sore-sore pula. Tapi pas andi tunjukin hasil foto-fotonya, langsung berubah tuh ekspresi si senior. Karena di foto itu, ternyata banyak banget setan setan aneh yang ikut kejebret masuk.
Iya, hantu hantu itu beneran ke-foto sama kameranya andi. Dan itu artinya... energi di tempat itu kuat banget. Udah bukan cuma cerita doang, tapi ada buktinya secara visual. Dan iya, makin bikin bulu kuduk merinding karena semua kejadian yang dia alamin itu, ternyata beneran.
Menurut gue sih, ya emang agak nggak masuk akal juga kalau dipikir-pikir. Maksudnya, sendirian, sore-sore, ngide ke tempat kayak gitu? Kayak ngelakuin uji nyali versi ekstrim. Nggak heran kalau akhirnya itu jadi pengalaman pertama dan terakhir andi buat ke sana.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar