Kejadian ini katanya berlangsung di sulawesi selatan, yang terjadi pada tahun 2024. Cerita ini gua dapet dari temen yang tinggal di makassar. Walaupun terbilang baru ya. Tapi udah ada cerita mistisnya. Ya karena rel kereta api resmi rilis di sulawesi itu pada tahun 2022. jadi baru 2 tahun rilis udah ada kejadian horor. Makanya wajar kalau banyak tempat tempat angker di jawa dan sumatra yang berasal dari rel kereta api. Soalnya sudah sejak jaman penjajahan belanda. Okay gak usah berlama-lama. Mari kita simak ceritanya.
------------------------------
Biar kebayang, gua deskripsiin dulu ya kondisi tempatnya. Jadi rel keretanya itu posisinya agak tinggi, ya... agak ke atas gitu. Terus kanan kirinya tuh langsung turun curam ke bawah, baru deh area rumah warga. Jadi relnya di atas, terus baru tuh rumah-rumah warga di bawahnya, kanan kirinya. Kebayang, kan?
Kalau di jawa kan biasanya rel tuh sejajar sama rumah warga ya, kadang malah nempel. Nah ini beda. Ini relnya tinggi, kanan kirinya batu-batu kayak biasa, tapi bawahnya terjal, baru tuh rumah warga. Jarak dari rel ke rumah warga sekitar 3 meteran, ada juga yang 5 meter. Jadi enggak nempel banget. Enggak kayak di jawa yang kadang 1 meter juga udah ada warkop atau rumah, kan?
------------------------------
Nah, lanjut ya... Ceritanya dimulai dari didit, temennya tomi. Waktu itu didit lagi mandi di jamban. Lu tahu jamban, kan? Iya, yang model kamar mandi seadanya, cuman tembok doang tanpa atap, kadang dari kayu atau bambu. Biasanya sih emang di kampung-kampung masih ada yang kayak gitu.
Nah, jamban tempat didit mandi ini ada di samping rel kereta, jaraknya kira-kira 5 meter dari rel. Di tengah-tengah didit lagi mandi, tiba-tiba dia denger suara blak! gitu... kayak ada sesuatu jatuh di samping dia. Pas dia nengok ke bawah... gila, men—ada kaki! Kaki manusia! Kelempat dari rel ke jamban tempat dia mandi.
didit kaget, tapi... anehnya dia enggak takut, mungkin karena udah biasa lihat korban kecelakaan kali, ya. Jadi cepet2 lah dia bilas badannya. Biar sabun di badannya hilang. Terus cepet2 pakai baju. Walau belum sikat gigi, terus dia keluar tuh sambil jalan ke arah rel yang udah rame warga. Ternyata emang lagi ada kecelakaan, ada orang ketabrak kereta.
Nah, didit sambil megang-megang kaki itu, dia bilang ke warga, “Ini kakinya!” Sambil ditunjuk-tunjukin. Gila ya, dia kayak nemu sandal aja. Terus warga makin rame. Di antara kerumunan itu, ada si tomi yang tadi cerita. Dia ngeliatin juga tuh ke lokasi. Kata dia, ternyata bukan cuma kaki yang lepas—kepala juga putus dari badannya.
Dan parahnya lagi, sisa badan korban tuh masih utuh, masih nyambung. Cuman satu kaki putus, kepala juga lepas. Tapi si tomi ini malah biasa aja. Dia malah bilang, “Wah, bentar lagi nih ada yang gentayangan.” Gokil gak tuh, bukannya takut malah nantangin.
------------------------------
Beberapa hari kemudian, tomi cerita lagi. Katanya budenya ngasih tahu kalau ponakan mereka disamperin sama setan korban yang kecelakaan itu. Masih di sekitaran rel yang sama. Jadi, malam-malam ponakannya nanya ke ibunya, “Bu, itu siapa ya, kok enggak ada kepalanya?”
Ibunya langsung jawab, “Mungkin kamu salah lihat kali. Udah, tidur aja yuk.” Tapi ponakannya ini masih kecil, polos banget. Mungkin karena masih SD juga, jadi dia enggak terlalu takut atau ngerti. Tapi ya... lu bayangin aja, anak kecil bisa ngelihat kayak gitu dan tetap santai. Serem banget sih...
------------------------------
Nah, besokannya, si budenya tomi langsung ngasih tahu soal kejadian itu. Awalnya tomi mikir, “Ah, ponakan gue aja enggak takut, masa gue harus takut?” Lagian, cuma enggak ada kepala doang, pikir dia. Seremnya di mana sih? Tapi ternyata ya... enggak sesimpel itu.
------------------------------
suatu hari setelah diceritain, malamnya tomi kebangun dari tidurnya. Gara-gara cerita si ponakan itu kebayang-bayang terus. Jadinya dia kepikiran, pengin lihat dari jendela, siapa tahu beneran ada tuh setan yang diceritain. Posisi rumah tomi itu cuma sekitar 3 meter dari rel kereta. Dan jendelanya langsung ngadep ke arah rel. Jadi begitu dibuka... relnya langsung kelihatan.
Begitu jendelanya dibuka—buset—setan itu beneran ada! setan yang awalnya tomi pikir “ah paling biasa aja” ternyata... bikin jantung hampir copot. Dia berdiri tegak, enggak ada kepalanya, kakinya cuma satu, dan lehernya masih ngucurin darah gitu. Berdiri diam aja di tengah rel.
tomi langsung balik badan. Dia udah enggak kuat lihat keluar jendela lagi. Dia coba nenangin diri. Dalam hati, “Enggak boleh kalah nih gua sama ponakan gue. Masa dia aja enggak takut, gua takut?” Ego laki-laki lah ya... Tapi tetap aja, rasa takut itu nyata.
Buat ngilangin sepi, tomi coba nyalain TV di kamarnya. Biar rame dikit, biar ada suara. Sambil rebahan, walaupun ya, mana bisa tidur lagi abis lihat kayak gitu. Tapi kayak banyak orang lain juga, walaupun takut, ada rasa penasaran. Masih pengin lihat... masih ada enggak sih itu setan?
------------------------------
tomi akhirnya balik badan lagi, ngintip dari jendela. Dan ya, setan itu masih ada! Tapi... kali ini bukan di rel kereta. Tapi tepat di depan jendela kamar tomi. Gila sih. Mereka cuma dipisahin sama kaca jendela.
Badannya ngadep langsung ke arah tomi, dan walaupun enggak punya kepala... tomi ngerasa dilihatin. Serasa kayak tatapan langsung... padahal enggak ada kepala. Tapi rasanya tuh... kayak ditatap tajam.
Lehernya masih basah darah. Dan yang paling bikin merinding, setannya kelihatan jelas banget. Karena di luar kamar tomi ada lampu nyala. Jadi bukan samar-samar kayak di film horor. Ini jelas. Detail. Nampak semuanya.
tomi langsung lari ke ruang tengah. Dia nyalain TV di situ, berharap suasana lebih rame, biar enggak seserem tadi. Dan akhirnya, ketiduran juga.
------------------------------
Pas subuh dia baru bangun. Dua hari kemudian, pas hari libur, tomi main ke rumah didit. Mereka ngobrol-ngobrol, dan... ternyata, di malam ketika tomi dikunjungi si hantu tanpa kepala itu, sore harinya didit juga ngalamin kejadian serupa.
didit tuh sore-sore mau ke rumah tomi. Tapi niat itu batal. Karena pas dia baru mulai jalan, dan sampai di tengah rel—dia lihat setan yang sama. Di atas rel, cuma sekitar satu meter di depannya. Jadi mereka tuh bener-bener berhadapan.
------------------------------
Kalau tomi masih ada jendela yang ngebatasin, didit ini enggak ada batas apa-apa. Langsung depan-depanan sama hantu itu. Dan ya... didit langsung balik badan, lari masuk ke rumah lagi. Dari dalam rumah, dia masih bisa lihat setan itu. setan itu berhenti di tangga rumahnya.
Kakinya cuma satu, dan nggak lama kemudian setan itu jalan, ke arah rumah didit. didit panik, dia lari ke ruang tengah, nyari tempat yang lebih terang, lebih rame. Untungnya, pas itu keluarganya lagi pada di rumah.
didit cerita ke keluarganya. Dia bilang barusan lihat setan hantu tanpa kepala. Tapi pas semua keluar rumah... setannya udah enggak ada.
------------------------------
Akhirnya malam itu, didit batal ke rumah tomi. Dia cuma diem di rumah, nonton TV sama keluarganya. Tapi... tengah malam, didit kebangun. Dia denger suara blak! dari arah belakang rumah—dari arah jamban tempat dia biasa mandi.
Dia cek keluar kamar. Rumahnya gelap, keluarganya masih tidur. Dia fokus lagi, berusaha denger. Suaranya ilang. Oke, dia balik ke kasur.
Tapi... enggak lama, ada suara lagi. Bukan suara benda jatuh. Tapi kali ini... suara kayak ada sesuatu yang diseret... suara nyeret pelan, tapi jelas banget...
------------------------------
Nah, waktu itu didit mikir, "Wah, jangan-jangan maling nih." Jadi dia keluar kamar pelan-pelan, hati-hati. Lampu gak dia hidupin, karena ya dia udah hafal banget denah rumahnya, jalan gelap-gelapan pun gak masalah buat dia. Terus dia ambil pipa panjang gitu, buat jaga-jaga kalau emang bener ada maling.
Dia jalan ke arah belakang rumah, sampai ke bagian jamban yang ada di belakang tuh, karena emang pintu belakang rumahnya di situ, dan suara yang dia denger juga datang dari arah situ. Mungkin si maling masuk dari sana, pikir didit. Dia jongkok, matanya fokus ke pintu belakang rumah yang ternyata udah kebuka.
------------------------------
Tiba-tiba... suara nyeretnya muncul lagi. "Set... set... set..." didit makin tegang. Dia tunggu maling itu muncul di depan dia. Dan muncul... tapi bukan maling. setan manusia tanpa kepala itu yang muncul, berdiri di belakang rumahnya didit.
Kaget banget didit. Saking paniknya, dia langsung lari ke kamarnya. Dia gak sempat ngunci pintu belakang rumahnya lagi. Duh, kebuka gitu aja. Tapi didit udah takut banget, dia langsung masuk kamar, coba maksa tidur malam itu.
------------------------------
Besok malamnya, didit sendirian lagi di rumah. Masih bangun sampai jam dua pagi, di kamar, chat-an sama ceweknya. Eh, tiba-tiba... "Set... set... set..." Suara itu muncul lagi. Suara kayak orang nyeret sesuatu. didit penasaran. Dia cek lagi ke belakang rumah.
Dan bener. setan itu muncul lagi. setan yang sama. setan korban kecelakaan kereta api itu. Dia nyeret kakinya yang lepas... Nat, gila gak tuh?
Tapi kali ini... dia ada kepalanya. Dan kepala itu... nengok ke arah didit. Tapi mukanya cuma setengah. Separuh wajahnya hancur. Ada hidung, ada mata, terus... kepala itu jatuh lepas dari lehernya. Serem banget, anjing!
------------------------------
didit langsung lari ke kamarnya lagi. Tapi malam itu dia bener-bener gak bisa tidur. Bahkan... belum selesai sampai di situ. Dari luar kamarnya, didit denger suara orang... nangis. Suara tangisan kesakitan, suara minta tolong. Tapi suara itu ditutup sama suara ketawa cekikikan cewek. Aduh, gila, anjing! Serem banget!
Semalaman sampai pagi, didit cuma diam aja di kamar. Gak berani keluar sampai ada cahaya matahari masuk. Dan ternyata ya, setan ini tuh gak cuma datengin didit sama tomi doang. Tapi juga warga sekitar rel kereta api itu. setan hantu satu kaki, yang kakinya putus itu, sering banget muncul di area tempat dia kecelakaan setelah Magrib.
------------------------------
Banyak warga yang percaya, kalau setan ini tuh nyari sesuatu. Nyari bagian dari dirinya sendiri. Nah, kita balik ke obrolan didit sama tomi ya, di rumahnya didit. Setelah didit cerita semua itu, tomi jadi mikir.
"Eh, dit, lu kan yang nemuin potongan kaki korban itu, kan?" Dan jangan-jangan, kata tomi, setan ini tuh emang nyariin barangnya... yaitu sepatu. Karena sepatu nempel di kaki, ya kan? Dan bisa aja sepatunya itu... ada di tempat didit. Makanya setan itu suka nyamperin rumah didit.
Soalnya waktu didit nunjukin potongan kaki itu, udah gak ada alas kakinya. Nah, ternyata bener. Sepatu korban itu tuh ada di bawah selokan belakang rumahnya didit. Deket bilik bambu jamban belakang rumahnya itu.
------------------------------
Akhirnya, mereka taruh tuh sepatu di tempat setan itu sering muncul. Di deket jamban. Karena dulu juga, kata tomi, sempet ada kecelakaan kereta, dan ada warga yang ngambil sendalnya si korban. Beberapa hari kemudian... sendalnya muncul lagi di tempat semula. Di tempat korban tewas. Karena yang ngambil sendal itu diganggu sama arwah korban.
Gua sih setuju aja. Rata-rata korban kecelakaan tuh gentayangan karena pengen nyampein sesuatu. Dan bisa aja, kayak yang tomi bilang, dia cuma pengin ambil sepatunya balik. Karena mungkin itu hal terakhir yang dia punya. Dan banyak cerita kayak gitu, kan? setan yang gangguin orang karena nemuin organ tubuhnya atau barang miliknya. Gua juga pernah denger tuh cerita-cerita kayak gitu...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar