Senin, 07 April 2025

Malam Satu Suro || Podcast Horor

  Malam satu suro adalah malam yang suci bagi penganut kejawen. Tapi malam satu suro juga menjadi malam yang mistis bagi banyak orang. Karena banyak kejadian mistis yang terjadi di malam satu suro. Buat yang gak menganut kejawen. Saya harap untuk toleransinya. Karena kita punya hak masing-masing dalam kepercayaan. Walaupun orang kejawen kebanyakan ktp nya islam. Artinya mereka juga punya iman tetang islam. Jadi boleh di ceramahi agar dapat hidayah. tapi tidak boleh di paksa. 

Ya ini adalah pengalaman danu yang di ceritakan lewat email. Dan Kejadian ini tuh belum lama terjadi di tahun 2024. di sebuah desa kecil di kabupaten banyumas provinsi jawa tengah. Di banyumas sendiri masih banyak penganut kepercayaan kejawen. Bahkan di keraton banyumas. Setiap tahun rutin di adalah acara rutin turun temurun yang dilakukan oleh keluarga kerajaan. Dan banyak pula fotografer dan kameramen yang datang untuk mengabadikan momen tersebut. Disklemer sayangnya kejadian mistis ini bukan di situ. Melainkan di desa lain. Dan gak ada hubungannya sama keluarga kerajaan. Itu aku ceritain buat bukti aja. Bahwa di banyumas masih kental tradisi kejawen. Silahkan cek aja banyak beredar di media sosial. Oh iya buat yang belum tahu. keraton di banyumas ini tuh. Keraton tanpa mahkota ya. Jadi sudah tidak memiliki kekuasaan. Beda sama keraton jogja yang masih aktif memerintah jogja. 

----------------

Jadi, waktu itu gue kerja di sebuah desa dan kebetulan senior gue, sebut aja Mas haikal, ngajakin ikut acara ruwatan desa. Nah, ruwatan ini tuh semacam upacara buat membersihkan desa dari bala, musibah, dan penyakit. gue yang penasaran langsung setuju buat ikut.

Setelah selesai kerja, Mas haikal langsung nyuruh gue mandi “cepat mandi terus siap-siap berangkat”. kita harus jemput Abah, salah satu sesepuh desa yang bertugas beli segala keperluan buat acara malam itu. Rumah Abah ini gede banget, dan pas gue masuk mobil, langsung tercium aroma khas minyak kayu putih dan remason. "Ayo budal tekan pasar!" katanya, yang berarti ayo berangkat ke pasar.

Sepanjang jalan, Abah cerita tentang acara ini. Intinya, tujuan ruwatan desa tuh biar desanya aman, terhindar dari musibah, penyakit, dan gagal panen. Sesampainya di pasar, kita belanja banyak barang yang gue sendiri nggak tahu namanya. Yang gue kenal cuma bunga tujuh rupa, kendi, lonceng, dan klosok atau tikar dari anyaman bambu.

Balik dari pasar, kita bantuin orang-orang nyiapin acara tasyakuran. Warga desa datang bawa makanan, mulai dari jajanan pasar sampai hasil kebun dan sawah. Acara ini ditutup dengan doa bersama dan makan besar. Setelah itu, Abah ngajak gue dan Mas haikal keliling desa. Tujuan pertama itu Makam desa.

Jujur aja, walaupun makamnya udah ada penerangan, tetap aja auranya beda. gue di tengah, Abah di depan, Mas haikal di belakang. Mas haikal ini punya indera keenam yang lebih peka dari orang biasa. Sesampainya di makam, Abah berdoa dan membakar dupa. Udara tiba-tiba berubah dingin dan suasana makin mencekam. Pas keluar dari makam, Mas haikal kelihatan pucat. Ternyata, dia lihat sosok harimau putih di samping pohon beringin. Dia langsung merinding!

Dari makam, kita lanjut ke sungai di batas desa. Tempatnya jauh dan dikelilingi pohon bambu. Pas sampai di pintu air, Abah melempar bunga ke sungai dan mulai berdoa. Air yang tadinya tenang mendadak beriak deras. Mas haikal nyuruh gue baca doa, dan gue nurut aja. Setelah selesai, Abah bilang bahwa di dalam sungai tadi ada sosok ular putih. Katanya, buaya itu dulunya dipakai buat ritual pembangunan bendungan zaman kolonial, tapi sekarang cuma jadi penunggu. "Tapi kudu ati-ati, soale Bajul putih iso dimanfaatke wong sing niate elek!" kata Abah. Artinya, harus hati-hati, soalnya buaya putih bisa dimanfaatkan orang dengan niat jahat.

Perjalanan belum selesai. kita lanjut ke Batu Punden, tempat yang dipercaya sebagai tempat leluhur bermeditasi. Di sini lebih tenang dibanding dua tempat sebelumnya. Setelah selesai berdoa, kita langsung balik ke balai desa buat persiapan acara puncak Malam Satu Suro.

Jam udah nunjukin tengah malam. Para sesepuh desa berkumpul, melakukan doa bersama, lalu duduk menghadap kiblat. "Mending metu saiki, yen wedi," kata Abah. Artinya, kalau takut, mending keluar sekarang. Mas haikal kelihatan ragu, tapi akhirnya tetap ikut.

Lonceng mulai dibunyikan, ritual dimulai. Suasana hening banget, tiba-tiba... DUAR! Suara letusan keras terdengar. Dia kaget, tapi semua orang tetap diam berdoa. Letusan kedua menyusul, dan kali ini dia hampir bangkit, tapi Mas haikal genggam tangannya erat. Keringat dingin mulai mengalir, dan gue mulai baca doa seadanya.

Nggak lama, lampu mati. Gelap total, cuma nyala dupa yang kelihatan. Lalu gue dengar suara sapu ijuk menyapu lantai. gue tahu gue nggak boleh lihat ke belakang, jadi gue cuma menunduk dan berharap semuanya cepat selesai. Akhirnya, lonceng dibunyikan lagi, tanda ritual selesai. gue langsung minum buat nenangin diri.

Setelah ritual, Abah nanya apa yang kita alami. Dia cerita cuma dengar suara-suara aneh, tapi Mas haikal punya pengalaman lebih ngeri. Dia bilang, saat lampu mati, dia lihat sosok nenek-nenek berpakaian adat desa dengan rambut putih menutupi wajahnya berdiri di depan sesepuh desa. Kata Abah, itu Danyang desa ini. "Alhamdulillah, Uti kakung e durung metu," katanya. Artinya, syukur neneknya aja yang muncul, karena kalau kakeknya juga muncul, berarti ada pertanda buruk buat desa.

Jam udah nunjukin pukul 2 pagi. Abah nyuruh kita tidur di rumahnya biar nggak ketakutan. Pagi harinya, setelah sarapan, kami pamit pulang. "Ojo kapok yo!" kata Abah sambil ketawa. Artinya, jangan kapok ya! Mas haikal yang masih pucat cuma bisa manggut-manggut.

Dan begitulah pengalaman pertama kita ikut Malam Satu Suro. Serem? Jelas! Tapi juga jadi pengalaman yang bikin dia lebih menghargai tradisi dan keyakinan orang lain. Karena walaupun berbeda keyakinan. tapi tetap harus kita hormati.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

50 Random Post