(Backsound pelan, suara angin dan sesekali jeritan jauh...)
Malam itu… tiga anak muda nekat main petak umpet… di pemakaman tua. Tempat yang katanya… pernah jadi lokasi pembunuhan seorang wanita hamil.
“Jangan sampai sembunyi di makam yang nisannya retak,” kata
salah satu dari mereka, Rian… sambil ketawa-tawa.
Katanya sih,
itu kuburan kuntilanak...
Dika—yang paling muda—mutusin buat sembunyi di balik nisan
gede. Tapi waktu itu… angin tiba-tiba berhenti. Hening.
Terus…
tangisan lirih kedengeran dari balik pepohonan.
Awalnya kecil. Lama-lama… keras.
Dan makin deket.
“Rian? Joko?” panggil Dika, pelan. Tapi nggak ada
jawaban.
Yang ada… suara tanah kayak... retak.
Dan bener aja—di depan matanya, tanah makam itu
membelah.
Keluar… tangan putih, kurus…
Lalu…
wajah perempuan… rambut panjang nutupin muka…
Mulutnya
nganga… penuh darah.
Dika lari. Tapi dia jatuh. Dan makhluk itu—udah ada di atasnya…
BRAK!
Tiba-tiba… lampu-lampu terang nyala.
“Cut!”
teriak sutradara.
Ternyata… ini cuma syuting film horor.
Dika lega.
Sampai dia liat monitor...
Wajah kuntilanak tadi…
Itu bukan pemeran film.
Itu…
wajah ibunya.
Dan saat Dika balik badan…
Semua kru… udah hilang.
(Bunyi napas berat… fade out ke suara jeritan jauh...)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar