Senin, 07 April 2025

Kuntilanak Di Jembatan Layang Kampus || Podcast Horor

  Hampir tiap kampus punya urban legend nya masing-masing. Walaupun beberapa hanyalah mitos. Tapi banyak juga yang memang fakta. Gimana menurut kalian. Apa kisah urban legend di kampus kalian masing.

=====================================

Kisah ini dialami oleh seorang mahasiswa di salah satu kampus ternama di ibu kota. Sebut saja namanya Haikal. Nama aslinya saya privasi. Trimakasih buat haikal yang udah kirim cerita. 

Haikal baru saja memasuki semester tiga. Haikal tinggal di asrama kampus. Selain lebih murah, ia juga bisa berhemat karena asrama terhubung dengan gedung perkuliahan melalui sebuah jembatan layang. Jembatan itu terkenal dengan urban legend tentang sosok hantu pocong dan kuntilanak merah.

Suatu siang, setelah menyelesaikan mata kuliah pertama, Haikal diajak temannya mengunjungi sebuah kafe baru di pusat kota. Selain penasaran, mereka juga ingin memanfaatkan promo beli satu gratis satu di dua hari pertama pembukaan kafe tersebut. Mereka pun berangkat naik motor. Mereka pun ngebrol biasa selayaknya anak kampus pada umumnya.

Saat melihat jam, waktu sudah menunjukkan hampir pukul empat sore. Haikal pun mengajak temannya untuk segera kembali ke asrama karena ia ada kuliah lagi pukul tujuh malam. Namun, apesnya, jalanan ibu kota sangat macet. Dalam hati, Haikal menyesali keputusannya ikut ke cafe.

Setelah perjalanan yang cukup melelahkan, mereka tiba di asrama tepat saat adzan maghrib berkumandang. Haikal menurunkan temannya di depan asrama, lalu menuju parkiran untuk memarkirkan motornya. Ia lebih suka berjalan kaki ke gedung kuliah karena lebih hemat bahan bakar.

Saat akan kembali ke asrama, ia melihat temannya tadi berdiri di depan pintu parkiran sambil minum kopi. Haikal heran, karena seingatnya ia sudah menurunkan temannya di depan asrama.

"Lah, bukannya lo tadi udah turun di depan asrama? Kok sekarang di sini?" tanya Haikal. Namun, temannya itu tidak menjawab dan tetap sibuk minum kopi.

"Ya udah, gue balik ke kamar dulu ya, bentar lagi ada kuliah," kata Haikal sambil melangkah pergi.

Saat memasuki asrama dan naik ke lantai dua, ia kembali berpapasan dengan temannya.

"Cepet banget lo sampai di sini!"

"Cepet apaan?"

"Tadi kan lo di parkiran sambil minum kopi."

"Di parkiran? Apaan sih? Jelas-jelas tadi lo turunin gue di depan asrama. Nih, kopi gue aja masih utuh dua-duanya!" kata temannya sambil menunjukkan kedua gelas kopi yang masih tersegel.

Haikal terdiam. Jika temannya di sini, lalu siapa yang tadi di parkiran? Ia berusaha berpikir logis dan menganggap dirinya sedang banyak pikiran karena tugas yang menumpuk. Ia pun memilih mandi dan bersiap untuk kuliah.

Namun, karena terburu-buru, Haikal lupa melaksanakan salat maghrib. Sementara itu, ia harus segera berangkat ke gedung perkuliahan. Satu-satunya cara tercepat adalah melewati jembatan yang terkenal angker itu. Padahal, ada aturan tidak tertulis bahwa setelah maghrib, siapa pun dilarang melewati jembatan karena sering terjadi gangguan makhluk tak kasat mata.

Haikal merasa dilema. Jika melewati jembatan, ia harus siap dengan segala konsekuensinya. Tapi jika tidak, ia harus memutar jalan yang memakan waktu sekitar 20 menit. Akhirnya, karena takut terlambat, Haikal nekat memilih melewati jembatan.

Ketika keluar dari asrama, ia melihat seseorang berjalan ke arah jembatan. Haikal merasa sedikit lega karena tidak akan sendirian. Ia pun mempercepat langkah untuk menyusul orang itu. Namun, semakin ia mempercepat langkah, orang itu juga berjalan semakin cepat.

Setelah merasa lelah, Haikal akhirnya menyerah dan memilih berjalan biasa. Tapi, ada sesuatu yang aneh. Ia merasa jembatan itu tak kunjung berakhir, seolah bertambah panjang tanpa ujung. Padahal harusnya gak sampai 5 menit. Sampai akhirnya, ia melihat orang yang tadi ia ikuti berhenti di ujung jembatan.

Haikal merasa lega, tapi juga penasaran. Kenapa orang itu berhenti di ujung jembatan? Saat ia semakin dekat, samar-samar terlihat sosok itu mengenakan gaun merah dengan rambut panjang. Namun, yang membuat Haikal bergidik ngeri adalah saat ia melihat ke bawah—sosok itu tidak memiliki kaki! Haikal pun teringat dengan cerita horor jembatan ini. Dalam hati dia berfikir. Jangan-jangan itu kuntilanak merah yang sering di bicarakan.

Saat Haikal menatap kembali ke depan, ia melihat sosok itu kini tersenyum lebar ke arahnya. Sosok itu bukan manusia. Ia adalah kuntilanak merah, penunggu jembatan tersebut!

Ketakutan luar biasa menyelimuti Haikal. Namun, ia tetap berusaha melangkah maju sambil mengucapkan istighfar. Semakin ia beristighfar, kuntilanak itu malah tertawa semakin kencang, seolah mengejek Haikal. Saat ia mengeraskan bacaannya, sosok itu malah terbang liar ke sana kemari sambil tertawa melengking.

Dalam kepanikan, Haikal menutup wajahnya sambil terus beristighfar dan mempercepat langkah. Tiba-tiba, suara tawa itu menghilang. Suasana menjadi sunyi. Haikal berhenti sejenak, mengira sudah sampai di ujung jembatan. Namun, saat ia membuka matanya, wajahnya langsung berhadapan dengan kuntilanak merah itu!

Mata hitam pekat, senyuman mengerikan, lendir keluar dari mulutnya, serta bau busuk menusuk hidung. Dalam kondisi kaku dan ketakutan, tiba-tiba kuntilanak itu menirukan ucapan Haikal, "Astaghfirullah... Astaghfirullah..." sambil kembali tertawa melengking.

Haikal pun langsung berlari kembali ke asrama. Namun, kuntilanak itu terbang mengejarnya, terus mengucapkan "Astaghfirullah" sambil tertawa. Dengan napas tersengal, Haikal akhirnya berhasil keluar dari jembatan dan masuk ke kamarnya. Kedua temannya yang sedang bermain gitar heran melihat Haikal yang terlihat sangat ketakutan.

Haikal memilih diam dan langsung bersembunyi di balik selimut. Kedua temannya mengira ia sedang tidak enak badan dan membiarkannya beristirahat.

Namun, dalam tidurnya, Haikal mengalami mimpi buruk. Ia kembali didatangi oleh kuntilanak merah yang terus mengejarnya sambil mengucapkan "Astaghfirullah". Di dunia nyata, kedua temannya melihat tubuh Haikal bergerak seperti orang berlari di tempat sambil berteriak histeris. Takut terjadi sesuatu, mereka pun membangunkannya.

Haikal terbangun dengan tubuh basah oleh keringat dingin dan nafas tersengal. Setelah diberikan minum, ia menceritakan kejadian yang dialaminya.

Salah satu temannya kesal, "Lo kan tahu ada larangan nyebrang malem-malem!"

"Gue takut telat, Bro... Lagi pula, gue pikir ada orang lain nyebrang juga. Tapi ternyata... malah kuntilanak," jawab Haikal.

Keesokan paginya, salah satu temannya melihat tubuh Haikal panas tinggi. Mereka pun membawa Haikal ke seseorang yang dikenal bisa mengobati orang yang terkena gangguan makhluk halus.

Orang itu, Pak Ridwan, mengatakan bahwa Haikal hampir saja "dibawa" oleh kuntilanak merah. Sosok itu memang kuat karena banyak diberi "makan"—konon, jembatan itu sering digunakan untuk membuang janin hasil aborsi mahasiswa kampus tersebut.

Sejak saat itu, Haikal tidak pernah lagi melewati jembatan tersebut hingga ia lulus kuliah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

50 Random Post