Sejak kakek meninggal, ada satu kebiasaan yang nggak pernah hilang—kursi goyangnya.
Dulu, kakek suka duduk di situ sambil mengayun pelan, matanya menatap halaman, seperti mengawasi cucunya bermain. Tapi setelah dia pergi, kursi itu tetap bergoyang… meski nggak ada yang duduk di sana.
Malam itu, gue lagi main di ruang tamu, sendirian. Angin nggak berembus, tapi kursi goyang kakek bergerak. Pelan, seperti ada yang duduk di situ.
Lalu, terdengar suara batuk kecil.
Gue merinding. Itu suara kakek.
Pelan-pelan, gue mendekat. Tapi sebelum gue bisa bilang apa-apa, kursi berhenti bergoyang.
Sejak malam itu, gue tahu satu hal.
Kakek nggak pernah benar-benar pergi.
Dia masih ada.
Masih menjaga cucunya.